Sejarah Pembangunan Jembatan Barelang Batam

Sejarah Jembatan Barelang Batam
Pulau Batam diperkirakan akan sesak dengankegiatan industru, sehingga pembangunan akan bergeser ke kawasan Rempang – Galang. Maka sebab itulah dibangun enam jembatan dengan biaya lebih dari Rp 400 miliar. Jembatan pertama dinamakan jembatan Tengku Fisabilillah. Jembatan bertipe cable stayed bridge itu paling banyak dikunjungi wisatawan local maupun asing.

Lalu ada jembatan II atau Nara Singa II yang menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, jembatan III atau dikenal juga dengan jmembatan Raja Ali Haji menghubungkan Pulau Nipah dan Pulau Setokok.

Kemudian jembatan IV atau dikenal juga dengan jembatan Sultan Zainal Abidin menghubungkan Pulau Setokok dengna Pulau Rempang, jembatan V atau jembatan Tuanku Tambusai menghubungkan Pulau Rempang dan Galang dan terakhir jembatan VI atau jembatan Raja Kecil menghubungkan Pulau Galang dan Galang Baru.

Dengan jembatan-jembatan itulah, enam pulau menyatu dengan Batam. Rempang yang luas lahannya sekitar 16.583 hektar bakal di tata sedemikian rupa dengan pembagian sekitar 217 hektar disiapkan untuk kawasan industri, permukiman 656.59 hektar, pariwisata seluas 447,14 hektar, fasilitas umum 127,82 hektar, jasa 181,04 hektar dan pertanian 1.198,57 hektar. Begitu juga dengan kawasan Galang.
Tags: ,

0 comments

Leave a Reply

Silahkan ketik komentar anda di bawah ini yang bersifat membangun...